Song Title :
LAST GIFT
Author
: Annisa Nisa a.k.a SHINvisble Nisaa~
Main Cast : Lee
Tae Min
Support Cast : Yoon Sila, Lee Jin Ki, Kim Jong
Hyun, Kim Ki Bum, Choi Min Ho, dokter Jung, Manager SHINee
Length
: Twoshot
Genre
: Friendship, Romance, Sad
Rating
: General
A/N
: Ikut kontes A (H2H)
*******
*******
As soon as I opened my eyes,
I disliked it…
To be honest… I didn’t want to believe it
Because saying goodbye forever
Can only leave you feeling strange…
Aku kembali menghela nafas. Entah yang keberapa kalinya dalam hari
ini. bagaimana tidak, seorang Lee Tae Min disuruh membersihkan gudang yang
berdebu oleh Key-hyung.
“Tae Min, berhenti mengeluh. Aku kan ikut kerja juga,” sahut Key-hyung, seolah
bisa membaca pikiranku.
Aku mengangguk, “Ne, hyung.”
Kutatap kardus dihadapanku. Syukurlah, ini kardus terakhir. Setelah ini aku
akan mandi dan main PS. Ahaha..
“Tae Min, kenapa kau malah senyum-senyum sendiri? Cepat selesaikan. Itu kardus
terakhir yang harus kau pindahkan kan?” ujar Key-hyung yang sudah berdiri di
sampingku.
“Ah, ne.. aku angkat dulu, hyung.”
Aku meraih kardus itu dengan kedua tanganku. Kalau tidak salah kardus ini
isinya buku-buku SMA-ku.
“Ah!” tanganku mendadak mati rasa saat aku sedang memegangnya. Rasanya tanganku
tidak bisa digerakkan. Tanganku tidak menerima perintah dari otakku. Kardus itu
terjatuh ke lantai gudang dan menimbulkan suara yang cukup kencang.
“TAEMIN!!” teriak Key-hyung refleks. Ia menghampiriku dengan muka khawatirnya,
“Apa yang terjdi padamu?”
Aku menggeleng, nafasku terengah-engah. Kenapa bisa begini?!
♪flashback end♪
Itu adalah kejadian yang terjadi 1 tahun yang lalu. Sehari setelah itu, aku
memeriksakan diri ke dokter. Ternyata, itu adalah awal dari perubahan hidupku.
Tanganku memang tidak lumpuh, tapi aku di-diagnosa menderita penyakit langka
yang sangat jarang terjadi. Dokter mengatakan tubuhku akan lumpuh. Tapi, ini
bukan penyakit ATAKSIA atau Spinocerebellar degeneration yang akan membuat
penderitanya kehilangan memori otak lalu meninggal. Penyakit ini bisa merenggut
nyawaku seketika setelah seluruh organ tubuhku lumpuh.
Dokter mengatakan bahwa lama-kelamaan tubuhku akan mengalami kemunduran
koordinasi sistem syaraf sebagai akibat dari kerusakan sistem syaraf otak kecil
dan tulang belakang. Satu hal yang pasti, umurku tidak akan lama lagi. Penyakit
ini tidak bisa disembuhkan. Tidak ada yang bisa dilakukan. Hanya obat-obatan
yang diberikan dokter. Mungkin untuk menjadikan umurku sedikit lebih lama.
“Lee Tae Min!” sahut seorang yeoja dari arah belakangku.
Aku menoleh kearahnya. Yoon Sila, yeoja manis yang sudah menjadi yeojachingu-ku
sejak SMA. Ia tersenyum.
“Tae Min, bagaimana keadaan tanganmu?” tanya Sila. Ia duduk disebelahku.
Aku tersenyum kecil. Tangan kiriku sudah lumpuh sejak 2 minggu yang lalu. Tapi
aku mengatakan padanya bahwa tanganku ini terkilir parah. Benar, dia tidak tau
tentang penyakitku ini.
“Tidak usah khawatir. Aku baik-baik saja, Sila,” kuusap rambutnya lembut.
Ia menatapku khawatir, “Jangan bohong.”
“Aku tidak bohong, Yoon Sila,” ujarku meyakinkan yeoja yang ada disampingku
ini.
Sila menghela nafas, “Baiklah. Tapi, aku tidak akan memaafkanmu kalau kau
berbohong kepadaku. Arasso?”
Aku mengangguk sambil tersenyum, “Ne. Jangan khawatir.”
“Ah, kenapa kau memanggilku ke taman ini? Kau tidak takut ketahuan wartawan?”
tanyanya pelan.
Aku menggeleng, “Aku lebih takut tidak bertemu denganmu.”
Sila tersenyum.
“Aku hanya rindu padamu. Sejak kau memberitahuku kalau kau akan ikut lomba
Fashion Design itu, aku jadi mengkhawatirkanmu,” ujarku perlahan.
“Ya, Lee Tae Min.. aku sudah dewasa. Justru kau harus mengkhawatirkan dirimu
sendiri. Lihat tanganmu ini,” Sila meraih tanganku yang terbalut perban.
Ditatapnya mataku dalam-dalam, “Lainkali kau harus lebih hati-hati, Tae Min.”
“Sila..” gumamku pelan.
“Ah ya, Tae Min. Aku mau minta fotomu ya? Eomma dan appa ingin melihat wajahmu.
Eomma rindu padamu. Kalau eomma sedang menelponku, eomma selalu bertanya kenapa
kau sudah jarang masuk tv sekarang.”
Aku tertawa kecil, “Bukannya itu hanya alasanmu?”
“Ya, enak saja!” Sila memukul kepalaku pelan.
Dulu saat eomma dan appa Sila belum pindah ke Bangkok, aku sering mengunjungi
mereka. Rasanya eomma Sila sudah menjadi eomma ku sendiri.
“Ne, ne.. aku bercanda. Baiklah, tapi aku ingin berfoto bersamamu.”
Sila langsung mengangguk setuju. Diambilnya handphone-nya di saku cardigan
putih yang sedang ia kenakan.
“Baiklah. Ayo senyum, Tae Min!” Sila merapat kearahku sambil mengarahkan handphone-nya.
Aku tersenyum kearah kamera.
“Hana.. dul.. set!” ujar Sila sambil menekan tombol di handphone-nya, “Ah,
gomawo Tae Min.”
Aku mengangguk, “Ne. Aku senang melihatmu tersenyum begini.”
“Kau ini..” Sila memasukkan handphone-nya dalam sakunya.
Aku terdiam sejenak, “Sila..”
Sila tersenyum, “Ne?”
Kuserahkan sebuah kotak kecil yang daritadi kugenggam didalam saku jaketku. Aku
bisa melihat ekspresi bingungnya saat menerima kotak kecil ini.
“Ini untukku?”
Aku mengangguk, “Ne, bukalah.”
Sila membukanya dengan perlahan. Sedetik kemudian ia langsung menutup mulutnya.
“Bagaimana? Kau suka tidak? Ini hari jadian kita yang ke-3000, makanya aku
ingin memberikan ini untukmu.”
Sila menatapku tak percaya, “3000? Kau..kau mengitungnya, Tae Min?”
Aku memberikan senyum terbaikku kearahnya, “Tentu saja, Sila. Maafkan aku kalau
kau tidak menyukai cincin ini.”
“A-anni! Tae Min, ini bagus sekali. Aku menyukainya,” Sila menggelengkan
kepalanya.
“Syukurlah kau menyukainya,” aku menghela nafas panjang.
Sila menatapku. Dapat kulihat matanya yang mulai berkaca-kaca, “Gomawo, Tae
Min. Jongmal gomawo.”
Kurengkuh tubuh Sila kepelukanku. Tuhan… buatlah kebahagiaan yeoja ini abadi…
***
“Tae Min, kau darimana?” tanya Min Ho-hyung begitu aku sampai di dorm kami.
Wajahnya tampak cemas.
Aku tersenyum. Berusaha memperlihatkan bahwa aku tidak apa-apa.
“Aku menemui Sila. Tenang saja, hyung. Aku tidak apa-apa. Dimana hyung yang
lain?” tanyaku sambil meletakkan sepatuku di rak-nya.
Kudengar hela nafas yang sangat panjang dari Min Ho-hyung, “Mereka sedang sibuk
di dapur. Kau sudah makan, Tae Min?”
“Belum, hyung. Aku ingin makan dirumah.” aku kembali tersenyum.
“Baiklah, kita makan bersama,” Min Ho-hyung membalas senyumku, “Kau habis
menemui Sila?”
“Ne, aku memberikan cincin itu padanya, hyung. Dia terlihat bahagia sekali,”
ujarku pelan.
Min Ho-hyung merangkul pundakku, “Kau harus kuat, Tae Min.”
Cepat-cepat kuhapus air mataku yang berdesakan di pelupuk mataku, “Ne, hyung.
Aku bisa mengatasi ini semua. Jangan khawatir, hyung.”
Min Ho-hyung tersenyum, “Kkaja. Kita ke dapur.”
Aku mengangguk. Kami sama-sama melangkah menuju dapur. Dapat kudengar suara
Onew-hyung, Jong Hyun-hyung dan Key-hyung yang sibuk di dapur. Aku tersenyum
mendengar suara-suara mereka.
“Hyung, aku pulang,” sapaku pada mereka semua.
Mereka langsung menoleh kearahku.
“Tae Min, kau baik-baik saja kan?” Jong Hyun-hyung buru-buru meletakkan pisau
dan menghampiriku. Onew-hyung yang sedang asyik menatap ayam yang sudah selesai
digoreng pun langsung menghampiriku.
“Gwenchana, hyung. Aku baik-baik saja,” aku tersenyum.
Jong Hyun-hyung menghela nafas lega. Onew-hyung mengelus rambutku.
“Ya, Jong Hyun-hyung! Cepat selesaikan pekerjaanmu itu!” sahut Key-hyung.
“Ah, ne! Mianhae,” Jong Hyun-hyung tertawa.
“Tae Min, kau sudah menemui Sila?” tanya Key-hyung sambil menatapku.
Aku mengangguk, “Ne. Dia baik-baik saja, hyung. Aku juga sudah memberikan
cincin itu.”
Key-hyung menatapku. Ia tersenyum, “Syukurlah, Tae Min.”
“Ah, hyung masak apa?” aku mendekat kearah Key-hyung.
Key-hyung tiba-tiba meraih tanganku dan menatapku, “T-tae Min? Kau?”
“Kenapa, Key-hyung?” tanyaku.
“Adaapa, Key?” tanya Min Ho-hyung dan Onew-hyung.
Key memegang wajahku, “T-tae Min, kau tidak tau aku masak apa? Apa kau
benar-benar tidak tau?”
Aku menggelengkan kepalaku.
“Ini tidak mungkin,” Key-hyung langsung berlari kearah kulkas dan membukanya.
Dengan tergesa-gesa dia mencari sesuatu. Wajahnya tampak cemas sekali. Kami
semua menatap Key-hyung dengan pandangan bingung.
Tiba-tiba Key-hyung menghampiriku dengan dua buah botol ditangannya. Dibukanya
salah satu botol itu.
“Ciumi harumnya. Katakan minuman apa ini!” ujarnya panik.
Aku meraih botol itu dengan heran. Kucium perlahan botol itu. Kenapa tidak ada
baunya?
Dadaku mulai berdegup kencang. Ada apa ini?
“A-aku tidak tau, hyung…” ujarku pelan.
Key-hyung menggelengkan kepalanya. Ia buru-buru membuka botol yang satu lagi,
“Ini?”
Aku melakukan hal yang sama. Hasilnya sama. Tidak ada bau sama sekali dari
botol ini.
“Kau kenapa, Key?!” Onew-hyung menatap Key-hyung bingung.
Aku menggelengkan kepalaku.
Sedetik kemudian Key-hyung langsung memelukku erat. Matanya tampak mengeluarkan
air mata.
Sementara aku, terdiam di pelukan Key-hyung. Indera penciuman-ku sudah lumpuh.
***
I’m gasping for breath
I’m afraid my heart has stopped
How can I possibly believe you,
When you end our relationship without a warning?
Aku berusaha tegar. Aku tau ini pasti akan terjadi. Indera penciuman-ku sudah
diambil Tuhan. Apa yang perlu kusesali?
“Tidurlah, Tae Min… ini sudah malam. Kau harus banyak istirahat,” ujar
Onew-hyung sambil mengusap rambutku lembut.
Aku mengangguk, “Ne, hyung. Aku akan tidur.”
Onew-hyung tersenyum. Perlahan kurebahkan badanku diatas kasur empukku.
Onew-hyung bangkit dari duduknya dan perlahan melangkah keluar kamar setelah
mematikan lampu kamar.
“Key! Tenanglah!” terdengar suara Jong Hyun-hyung.
Suasana mendadak menjadi hening sampai akhirnya bisa kudengar suara Min
Ho-hyung.
“Kenapa kau bisa menyadari Tae Min kehilangan indera penciumannya, Key?”
“Tae Min.. dulu, sebelum masuk kedalam dorm, dia pasti sudah menyadari kalau
yang kumasak adalah steak kesukaannya dari aroma steak itu. Tapi, tadi…” suara
Key-hyung terdengar begitu pelan, “Dia bahkan tidak bisa mengenali bau banana
milk kesukaannya dan jus wortel yang sangat tidak dia sukai.”
Aku terdiam. Banana milk? Jus wortel? Kedua minuman yang selalu aku ingat
aromanya. Satu kesukaanku dan satu lagi yang tidak kusukai sama sekali.
“Besok dokter Jung akan datang,” samar-samar terdengar suara Onew-hyung.
Aku menghela nafas. Ini sudah jalan hidupku. Tidak ada yang harus kusesali. Aku
harus tegar.
Perlahan mataku terasa berat. Sebenarnya aku tidak ingin tidur. Aku takut, saat
aku terbangun aku sudah kehilangan segalanya…
***
Dokter Jung baru saja pulang setelah memeriksa keadaanku. Aku tersenyum kearah
4 hyung-ku yang sedang menatapku dengan wajah cemas.
“Aku baik-baik saja, hyung,” ujarku berusaha meyakinkan.
Key-hyung mengangguk dan langsung keluar dari kamar kami. Aku tau dia ingin
menangis.
“Onew-hyung, katakan pada Key-hyung, aku tidak mau dia menangis. Aku baik-baik
saja,” ucapku dengan bibir bergetar.
Onew-hyung mengangguk dan langsung beranjak keluar kamar. Min Ho-hyung duduk disebelahku
dan memelukku erat.
“Tae Min… bagaimana bisa kau mengatakan kau baik-baik saja?” Jong Hyun-hyung
ikut memelukku.
Pertahananku yang sudah sejak tadi kupertahankan akhirnya runtuh. Air mataku
bergulir dari pelupuk mataku. Deras. Tidak bisa kuhentikan.
“Kalau kau merasa sakit, katakan saja. Jangan mengatakan bahwa kau baik-baik
saja, Tae Min..” ucap Min Ho-hyung pelan.
Aku terisak, “H-hatiku sa-kit, hyung… aku sakit me-lihat ka-lian begi-ni,
hyu-ng…”
Setetes cairan bening jatuh ditanganku. Jong Hyun-hyung menangis.
“Maaf, Tae Min.. maafkan kami, Tae Min…”
***
“Hyung, bolehkah aku minta sesuatu?” tanyaku perlahan keesokan harinya.
Onew-hyung mengangguk, “Katakan saja, Tae Min.”
“Ne, kau katakan saja. Kami pasti akan berusaha untuk memenuhinya,” ujar Jong
Hyun-hyung lembut.
Aku tersenyum, “Boleh aku mengadakan konser kecil untuk para penggemarku dan
penggemar SHINee? Aku ingin membuat sebuah kenangan dengan fans-ku.”
Onew-hyung menatapku cukup lama, “Konser?”
Aku mengangguk, “Aku ingin bermain piano dan menyanyikan lagu untuk mereka
sebelum suaraku hilang dan tangan kananku ikut lumpuh.”
“Tapi, Tae Min.. apa kau bisa memainkannya dengan-”
Buru-buru kusela ucapan Jong Hyun-hyung, “Walau hanya dengan tangan kanan, aku
tetap bisa memainkan piano, hyung. Lagipula, kalau tidak bisa memainkan piano,
aku masih bisa bernyanyikan?”
Onew-hyung tersenyum, “Baiklah. Kita akan buat konser untukmu, Tae Min. Kau
ingin mengadakannya tanggal berapa?”
Aku langsung tersenyum senang, “2 minggu lagi bagaimana? Atau kalau bisa 1
minggu lagi? Lebih cepat lebih baik, hyung.”
“Baiklah. Aku akan segera membicarakannya dengan manager-hyung dulu ya.”
Onew-hyung menatapku.
“Ne. Gomawo, hyung.. jongmal gomawo,” aku memeluk Onew-hyung.
***
Ternyata agensi-ku, SM Entertainment, setuju dengan rencanaku untuk mengadakan
konser. Onew-hyung mengatakan pada Soo Man-ajussi bahwa konser ini adalah
konser kami untuk para penggemar karena kami sudah lama tidak muncul di hadapan
publik.
Tentu saja mereka setuju. Ah, selain hyung-hyung ku dan manager-hyung, memang
tidak ada lagi yang tau tentang penyakitku ini.
Konser kecil itu akan diadakan 10 hari lagi. Tiket konser akan mulai dijual 3
hari lagi. Kuharap akan ada banyak shawol yang datang dan menonton konser ini.
Karena mungkin, ini konser terakhirku…
“Tae Min, kau sudah selesai latihan?” tanya Key-hyung yang menghampiriku dengan
gelas ditangannya.
Aku mengangguk, “Ternyata agak sulit ya, hyung.”
Key-hyung menatapku, “Jangan paksakan dirimu, Tae Min.. kalau kau merasa sulit,
lebih baik kau berhenti saja. Kaukanmasih bisa bernyanyi, Tae Min.”
Aku buru-buru menggeleng, “A-annyio. Aku bisa kok, hyung. Jangan khawatir.”
Key-hyung terdiam cukup lama.
“Hyung?” panggilku.
“Ah, ne,” Key-hyung tersenyum, “Saatnya kau minum obat, Tae Min. Aku sampai
lupa.”
Aku tersenyum, “Ne, gomawo hyung.”
Key-hyung menyerahkan dua butir obat dan segelas air putih ke tanganku. Aku
memasukkan obat itu dalam mulutku dan buru-buru meneguk air putih.
“Baiklah..” Key-hyung mengambil gelas dari tanganku setelah aku selesai menelan
obat-obat pahit itu, “Kau mau berlatih lagi?”
“Ne. Apa kau mau mendengarkanku, hyung?” tanyaku.
Key-hyung mengangguk, “Ne, aku mau.”
“Baiklah..” aku tersenyum.
Perlahan kugerakkan tangan kananku untuk bermain di diatas piano hitam ini. Aku
mulai tenggelam dalam permainanku. Tanpa kusadari air mataku mengalir di
pipiku. Key-hyung pun tampak menangis.
***
I don’t know why
I can’t move on
My feet won’t move
It feels unreal today
One side of my heart aches
3
hari kemudian,
Hari ini, di tempat yang sama dengan kemari, aku dan Sila akan bertemu lagi.
Aku rindu sekali padanya.
“Tae Min, maaf aku terlambat lagi.” Sila tersenyum dan langsung duduk
disebelahku.
Aku tertawa kecil, “Sampai kapan aku harus menunggumu terus?”
“Ya, aku kan tidak sengaja terlambat Tae Min. Lagipula sejak SMA, aku terus
yang menunggumu,” Sila mengerucutkan bibirnya.
“Kau mirip bebek di kolam itu,” candaku.
Sila tertawa kecil, “Enak saja.”
Aku tersenyum. Perlahan kugenggam tangannya dengan tangan kananku. Rasanya
hangat dan nyaman.
“Tae Min..?” Sila tampak sedikit terkejut.
“Aku merindukanmu, Sila,” ucapku pelan.
Sila menghela nafas. Ia tersenyum, “Aku juga merindukanmu, Tae Min.”
Kami terdiam untuk beberapa saat. Rasanya tenang sekali berada di taman ini
bersama orang yang kucintai.
“Tae Min..” panggil Sila, “Kudengar kau akan mengadakan konser?”
Aku mengangguk, “Ne. Ah, itu salah satu alasan kenapa aku ingin bertemu
denganmu.”
Kulepas genggaman tanganku dengan Sila. Kurogoh saku jaketku sebelah kanan.
“Ini, tiket konserku. Kuharap kau bisa datang, Sila. Ah, maksudku.. aku
benar-benar mengharapkanmu datang, Sila.” kuserahkan tiket itu kepada Sila.
Sila tersenyum. Dipandanginya tiket yang sudah berada dalam tangannya, “Tanggal
22?”
Aku mengangguk.
Sila menatapku, “Tae Min, tanggal 22 itu aku ada acara.”
Aku sedikit terkejut mendengar perkataan Sila, “Benarkah?”
“Eh, tidak. Acara yang akan kudatangi itu berlangsung dari jam 9 pagi sampai 3
sore. Konsermu jam 4 kan?” Sila tersenyum.
“Ne,” aku mengangguk.
“Baiklah. Aku akan datang,” Sila tersenyum manis.
Kutatap matanya dalam-dalam, “Janji?”
Sila mengangguk, “Aku janji, Tae Min.”
“Baiklah, aku akan marah padamu kalau sampai kau tidak hadir di konserku ini.
Mengerti, Yoon Sila?”
“Ne, kau tenang saja Lee Tae Min. Aku akan datang,” Sila tertawa kecil.
Aku ikut tertawa bersamanya. Bahagia sekali rasanya berada disamping Sila. Aku
sadar, sebentar lagi ini semua akan berakhir.
***
Sehari
sebelum konser,
“Tae Min… kau sudah bangun?” sapa Jong Hyun-hyung di meja makan.
Key-hyung menarik tanganku untuk duduk disebelahnya, “Ayo, makan. Aku sudah
menyiapkan makanan kesukaanmu.”
Aku mengangguk, “Gomawo, Key-hyung.”
“Ini diaaaa, banana milk-mu Tae Min!” sahut Onew-hyung yang baru kembali dari
dapur. Dia langsung meletakkan cangkir putih berisi banana milk di hadapanku,
“Ayo, minum dan makan yang banyak. Besok hari yang sangat besar bukan?”
“Gomawo, Onew-hyung,” aku tersenyum kearah Onew-hyung yang sudah bersiap untuk
memakan ayamnya.
“Jong Hyun-hyung, kau bangunkan Min Ho gih. Jam segini belum bangun,” suruh
Key-hyung pada Jong Hyun-hyung.
“Aaaa! Key, kau tidak lihat aku mau makan?” gerutu Jong Hyun-hyung.
Key-hyung langsung menarik piring sarapan Jong Hyun-hyung, “Tidak ada sarapan untukmu
sebelum kau membangunkan—”
“Ah, arasso!!” Jong Hyun-hyung langsung bangkit dari duduknya dan berlari ke
kamar.
Key-hyung tersenyum penuh kemenangan. Aku tertawa kecil. Kuteguk banana milk
yang sudah disiapkan Onew-hyung untukku. Segar sekali, tapi kenapa tidak ada
rasanya ya?
“Onew-hyung…” panggilku pelan.
“Ne, ada apa Tae Min? Kau mau tambah banana milknya?” tanya Onew-hyung yang
sedang asyik melahap ayam gorengnya.
Aku menggeleng pelan, “Apa ini banana milk?”
Key-hyung dan Onew-hyung langsung menatapku heran.
“Maksudmu apa, Tae Min? Tentu saja itu banana milk. Kemarin di supermarket
tidak ada yang dalam kemasan kotak kecil seperti yang biasa kau minum. Jadi aku
beli yang kemasan besar saja,” jelas Onew-hyung dengan muka bingungnya.
“Adaapa, Tae Min?” tanya Key-hyung penuh selidik.
“Apa hyung tidak salah? Ini plain milk bukan?” tanyaku memastikan.
Onew-hyung menggeleng, “Tidak. Aku membeli plain milk dalam botol kaca. Bukan
dalam kotak. Tentu saja aku yakin, Tae Min.”
Aku terdiam. Apa indera perasa-ku juga sudah lumpuh?
“Tae Min, apa yang terjadi?” Key-hyung menatapku.
Aku tertunduk. Dapat kurasakan air mataku menggenang di pelupuk mataku.
“Lee Tae Min, tatap aku. Apa yang terjadi padamu?” ujar Key-hyung lagi.
Perlahan kudongakkan kepalaku. Air mataku mengalir di pipiku, “Hyung, aku tidak bisa merasakan apa-apa..”
Perlahan kudongakkan kepalaku. Air mataku mengalir di pipiku, “Hyung, aku tidak bisa merasakan apa-apa..”
“Apa maksudmu, Tae Min?” Key-hyung tampak panik.
Onew-hyung mendekatiku, “Kau kenapa, Tae Min? Kenapa kau menangis?”
“Hyung, aku sudah tidak bisa merasakan rasa banana milk ini. Aku kehilangan
kemampuan indera perasa-ku, hyung…” jelasku dengan bibir bergetar.
Key-hyung menggeleng. Matanya tampak berkaca-kaca. Sementara Onew-hyung
terdiam. Perlahan ditariknya aku kedalam pelukannya.
****
Aku sudah menyelesaikan latihan vokal
dan juga latihan piano. Perasaanku saat ini sangat tidak karuan. Aku sendiri
bingung.
Perlahan aku berjalan menuju kamar kami. Kamarku dan hyung-hyung ku yang sudah
kami tempati selama lebih kurang 8 tahun. Sejak kami mulai dikenal oleh
masyarakat korea bahkan dunia.
“Tae Min, tidurlah. Besok pagi kau harus bersiapkan?” ujar Min Ho-hyung.
Aku mengangguk, “Ne, hyung.”
Segera saja aku naik keatas tempat tidurku dan mulai memejamkan mataku. Sambil
berharap kesedihan dihari ini tidak akan terbawa ke hari esok.
***
“Tae Min, ayo bangun. Sudah jam 9,” Onew-hyung mengguncang tubuhku pelan.
Mataku perlahan terbuka. Tampak Onew-hyung didepan mataku. Dia tersenyum manis.
Ditariknya selimutku pelan.
“Bagaimana perasaanmu hari ini?” tanya Onew-hyung.
Aku tersenyum, “Aku merasa lebih baik, hyung. Aku mandi dulu ya, hyung.”
Onew-hyung mengangguk, “Ne, Tae Min.”
Pelan-pelan aku berusaha bangkit dari kasur empukku. Tapi rasanya ada yang aneh
dengan diriku. Kakiku… ada apa dengan kakiku?!
“Kenapa kau malah diam, Tae Min?” tanya Onew-hyung yang masih berusaha melipat
selimutku.
Dadaku berdegup sangat kencang. Kucoba sekali lagi untuk menggerakkan kakiku.
Tidak, aku tidak bisa bergerak. Kucubit kakiku kanan dan kaki kiriku, tidak
sakit sama sekali!
“Hy-hyung…” kata-kataku tercekat.
Onew-hyung menatapku, “Adaapa, Tae Min?”
Aku menunjuk kakiku.
“Ada apa dengan kakimu? Apa kakimu pegal? Mau kupijat kakimu, Tae Min?”
Onew-hyung mulai cemas dengan keadaanku.
Aku menggeleng pelan. Tidak, aku tidak ingin menangis. Jangan…
“Kakiku tidak bisa digerakkan..” ucapku pelan. Pelan sekali.
Onew-hyung tampak terkejut, “Mwo?!”
Aku menggeleng. Kumohon, aku tidak ingin menangis hari ini. Bukankah aku sudah
tau hal ini akan terjadi. Ayolah Lee Tae Min, jangan menangis!
Onew-hyung mendekatiku dan memegang kakiku, “Kau tidak bisa merasakan apapun?”
Aku menggeleng.
Onew-hyung mencubit kaki kanan dan kiriku, “Bagaimana? Sakit?”
“Tidak. Aku tidak merasakan apa-apa, hyung. Bahkan aku tidak merasakan sentuhan
tanganmu, hyung…” bibirku mulai bergetar.
Onew-hyung menggeleng. Matanya tampak berair.
“Hyung…” akhirnya aku menangis. Air mataku tumpah tanpa bisa kubendung.
Aku menangis bukan karena diriku. Aku menangis melihat Onew-hyung yang menangis
karena aku. Aku benar-benar tidak tahan melihat wajahnya yang lembut itu
menangis di depanku karena aku.
Kupeluk Onew-hyung erat.
***
The ring I placed on your finger
Returns to my hand cold
I received my heart back in return
My LAST GIFT
Is this separation…
Saat ini aku sudah berada di backstage konser kami. Soo Man-ajussi tadi sempat
mampir melihat kami semua. Dia sangat terkejut saat mendapati aku sedang duduk
dikursi roda.
Manager-hyung dan Onew-hyung buru-buru mengatakan bahwa aku terjatuh sehingga
kakiku terkilir dan tanganku yang sebelah kiri belum sembuh.
Konser ini akan dibuka dengan lagu Hello oleh hyung-hyung ku itu. Tentu saja
aku tidak akan ikut menari bersama mereka.
“Min Ho-hyung..” panggilku kearah Min Ho-hyung yang sedang duduk terdiam di
depan kaca rias.
“Ne, Tae Min?” ia tersenyum.
“Aku boleh minta tolong ambilkan handphone-ku?” pintaku pelan.
Min Ho-hyung mengangguk, “Ne. Tunggu sebentar ya.”
Min Ho-hyung bangkit dari duduknya dan mengambil handphone-ku di saku jaket-ku
yang tergeletak di kursi. Diserahkannya handphone itu ke tanganku, “Ini. Apa
kau ingin menelpon seseorang?”
Aku mengangguk, “Ne, aku ingin menelpon Sila, hyung. Aku ingin memastikan dia
datang di konser ini.”
“Baiklah. Kau telpon saja dia, Tae Min,” Min Ho-hyung tersenyum manis.
Aku segera memencet sederet nomor dan langsung menempelkan handphone-ku
ditelinga.
“Yoboseyo,” terdengar jawaban
dari seorang yeoja.
Aku tersenyum mendengar suara itu, “Yoboseyo. Sila, kau sekarang ada dimana?”
“Mianhae, Tae Min. Tadi pertemuannya agak
molor. Saat ini aku masih dalam perjalanan. Konsermu 10 menit lagi ya? Maafkan
aku. Sepertinya aku akan terlambat—” suara Sila terhenti
sebentar, “Tapi aku pasti datang, Tae Min. Kau semangat
ya!”
Aku mengangguk, “Ne, Sila. Hati-hati di jalan. Jangan ngebut.”
“Ne, kau tenang saja Tae Min. Sukses konsernya
ya!” sahut Sila.
“Baiklah. Sampai jumpa nanti, Sila,” ucapku mengakhiri panggilan.
Min Ho-hyung tersenyum kearahku, “Apa dia sudah datang, Tae Min? Kau tidak
ingin menemuinya dulu?”
Aku menggeleng, “Dia belum sampai, hyung. Katanya dia sedang dalam perjalanan
menuju kemari.”
“Baiklah kalau begitu. Sepertinya kita harus siap-siap. Kkaja,” Min Ho-hyung
mendorong kursi rodaku pelan.
Kuletakkan handphone-ku diatas jaketku lagi. Semoga Sila bisa datang
secepatnya.
***
“Tae Min, bersiaplah. Selesai lagu ini, giliranmu tampil,” sahut Go-ajussi.
Aku mengangguk. Manager-hyung, Key-hyung dan Min Ho-hyung menghampiriku dan
menguatkan aku. Saat ini, Onew-hyung dan Jong Hyun-hyung sedang menyanyikan
lagu The Name I Loved dari album Y.O.U kami. Penampilan piano ini akan menjadi
penutup konser kecil ini.
Daritadi aku hanya muncul 4 kali diatas panggung. Yang pertama saat menyanyikan
Quasimodo, lalu Stand By Me, Life dan A-Yo. Sebagai penutup nanti kami akan
bersama-sama menyanyikan One untuk para fans kami.
Sementara itu, kursi VIP yang kupesankan untuk Sila belum juga terisi. Aku
khawatir tentang dirinya. Kenapa bisa selama ini…?
“Tae Min, semangat ya!” ucap Jong Hyun-hyung membuyarkan lamunan singkatku.
Aku mengangguk pelan. Min Ho-hyung dan Key-hyung yang mendorong kursi rodaku
keatas panggung. Saat pertama kali aku mucul tadi, shawol langsung berteriak
histeris. Mungkin mereka terkejut, Dancing Machine-nya SHINee duduk dikursi
roda.
“Baiklah, kali ini Tae Min akan mempersembahkan sebuah lagu untuk kita semua
dengan piano-nya,” ucap Key-hyung dan Min Ho-hyung sebelum kembali ke belakang
panggung.
Aku melemparkan senyumku kearah mereka semua.
“Ini adalah persembahan terakhirku…” aku tercekat, buru-buru kutambahkan
kalimatku, “Untuk konser ini. Setelah ini kami akan bernyanyi bersama-sama.”
Perlahan kugerakkan tangan kananku keatas tuts piano. Lambat-lambat
terdengar suara musik yang mengalun indah di telingaku. Lagu sedih ini
membuatku merenungi semua yang sudah terjadi belakangan ini. Semua memori
berputar di kepalaku.
Tidak terasa air mataku mengalir. Bayangan-bayangan Onew-hyung, Jong
Hyun-hyung, Key-hyung, Min Ho-hyung, manager-hyung, eomma, appa dan Sila terus
berputar di kepalaku.
Di ujung permainanku, tiba-tiba tangan kananku merespon terlalu lama.
Permainanku melambat. Di samping panggung dapat kulihat Key-hyung yang
menatapku cemas. Tuhan… kumohon.. jangan ambil dulu tangan ini. Aku ingin
menyelesaikan persembahan terakhirku ini untuk orang-orang yang mencintaiku.
Doaku terkabul. Entah karena keinginan kuatku atau Tuhan memang belum mau
mengambilnya. Akhirnya aku bisa menyelesaikan lagu ini.
“PROKK! PROKK! PROKK!!” suara tepuk tangan bergemuruh memenuhi hall ini. Kuusap
airmataku dan kugerakkan kursi rodaku menghadap kearah para penggemar kami
semua. Para SHINee World yang selalu setia bersama kami. Bisa kulihat tidak
sedikit dianatara mereka yang mengusap mata mereka.
Aku menghela nafas saat kulihat kursi VIP itu masih kosong. Apa yang terjadi
dengannya ya?
Key-hyung naik ke atas panggung disusul hyung-hyung yang lain. Key-hyung
mendekatkan sebuah standing microfon kearahku. Ia tersenyum, “Katakanlah yang
ingin kau katakan Tae Min.”
Min Ho-hyung juga tersenyum. Digenggamnya tangan kananku yang masih bisa
bekerja.
“Gamsahamnida, semuanya atas dukungan kalian selama ini. Aku mencintai kalian
SHINee World. Aku sangat mencintai kalian semua. Semoga selamanya kalian tetap
akan mencintai kami juga. Aku sayang kalian..” ucapku dengan suara bergetar.
Mungkin inilah salam perpisahan yang bisa kukatakan kepada seluruh Shawol.
Jong Hyun-hyung tampak tertunduk. Akhirnya ia mendongakkan kepalanya. “Baiklah,
kami akan menyanyikan lagu terakhir dari kami. One.”
Irama musik mulai mengalun. Lampu diatas panggung berganti menjadi spotlight.
Kugenggam tangan Min Ho-hyung erat-erat sebelum nantinya aku tidak akan bisa
menggenggam tangan seseorang lagi.
“Achim haessari geudaewa gatayo, jiogeum yuchi hagejyo, geuraedo nan ireonge
joheun geol…” terdengar suara Onew-hyung mulai mengalun merdu.
“Nareul kkaewojun geudae yeope ramyeon deo baralge eopgejyo ireoke geudael bogo
shipeun geol..” sambungku. Bisa kurasakan suaraku bergetar.
Suasana terasa sangat haru. Bait demi bait dilantunkan oleh Onew-hyung, Jong
Hyun-hyung, Key-hyung, Min Ho-hyung dan juga aku. Para shawol ikut bernyanyi.
Lightstick dan balon bewarna Pearlescent Sky Blue tampak jelas dalam kegelapan
ini.
“Ijeneun geuraedo dwejyo geureon geojyo…” Jong Hyun-hyung menyelesaikan lagu
One ini dengan suara merdunya. Tampak jelas olehku ia menangis.
Tanpa kusadari, Onew-hyung menggenggam tangan kiriku. Mana mungkin aku sadar,
sarafku sudah mati untuk tangan kiriku itu. Sementara Min Ho-hyung masih
menggenggam tangan kananku.
Kami bersama-sama bow 90o kearah para Shawol. Sebenarnya aku tidak
bow sampai 90o karena kursi roda ini menyulitkanku. Aku menundukkan
kepalaku kearah mereka.
“Saranghaeyo, Shawol!” ujarku dengan suaraku yang tidak begitu kencang, “Aku
akan selalu mencintai kalian…”
Perlahan-lahan aku tidak bisa lagi merasakan tangan Min Ho-hyung yang
menggenggam erat tanganku. Tidak mungkin… tanganku sudah lumpuh.. total.
***
Will there be any memories left?
Like the time I met you right out of a movie scene
Is it because my memory left me?
Of that I’m suffering alone
Key-hyung membuka pintu mobil untukku, “Onew-hyung, tolong gendong Tae Min
masuk.”
Onew-hyung mengangguk pelan. Matanya tampak berair. Aku tau tadi ia menangis.
Saat sudah berada di ruang ganti, aku memberitahu mereka tentang tanganku.
Konser ini memang benar-benar konser terakhir untukku.
“Ayo, Tae Min,” Onew-hyung tersenyum dan menggendongku masuk kedalam mobil.
Setelah semua lengkap dalam mobil, mobil kami mulai melaju membelah jalanan
kota Seoul. Tidak ada yang berbicara, semua tenggelam dalam pikiran
masing-masing.
“Key-hyung..” panggilku pelan.
Key-hyung yang duduk disebelahku langsung menoleh, “Ne, Tae Min?”
“Bisa tolong ambilkan handphoneku?” pintaku, “Sila tidak datang ke konser kita
ini. Apa bisa hyung telponkan dia untukku?”
Key-hyung tersenyum, ia mengangguk, “Baiklah, Tae Min.”
Min Ho-hyung menatapku, “Sila tidak datang, Tae Min? Bukankah dia bilang dia
sudah dalam perjalanan sepuluh menit sebelum konser?”
Aku mengangguk pelan, “Makanya aku sangat khawatir sekali, hyung..”
“Kau tenang ya, Tae Min. Sila pasti tidak apa-apa,” ujar Onew-hyung berusaha
meyakinkanku.
“Aigo, ada misscall dari Sila. 3 misscall. Ada apa dengannya ya?” Key-hyung
membaca handphone-ku, “Aku telepon balik ya..”
“Yoboseyo!” sahut Key-hyung, “Sila, apa kau baik-baik saja? Kenapa kau tidak
datang?”
“Mmm.. maaf tuan. Aku tadi menelpon anda
melalui handphone ini karena nomor yang terakhir kali ditelepon agassi ini
adalah nomor anda.” jawab seorang laki-laki.
“Mianhamnida, saat ini aku sedang berbicara dengan siapa ya?” tanya Key-hyung.
“Begini, tadi agassi ini mengalami kecelakaan
yang cukup parah di jalan Daehung. Dia segera dilarikan ke Gangbuk Hospital dan
sekarang dia masih berada diruang ICU. Apa tuan bisa kemari?”
“Jinca? Bagaimana keadaannya? Apakah separah itu?” Key-hyung tampak sangat terkejut.
“Aku sendiri tidak tau bagaimana keadaan agassi
ini, tuan,” jawab orang di telepon itu.
“Baiklah. Kami akan segera kesana. Gamsahamnida,” Key-hyung mengakhiri
panggilan tersebut.
“Hyung, apa yang terjadi dengan Sila? Apa dia baik-baik saja?” tanyaku pada
Key-hyung.
Key-hyung menatapku dalam-dalam, “Tae Min, Sila mengalami kecelakaan. Saat ini
dia sedang berada di ruang ICU Gangbuk Hospital.”
Rasanya ada palu yang tiba-tiba menghantam dadaku. Sakit, sedih, marah
mendengar berita ini. Cairan bening itu kembali meluncur dari pelupuk mataku
untuk yang kesekian kalinya dalam hari ini.
“Kita kesana sekarang ya, hyung?” pintaku dengan suara yang sangat pelan.
To be Continued..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar